Pembahasan praktikum KHM



PEMBAHASAN
            Kadar Hambat Minimal (KHM) adalah konsentrasi antibiotik terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. KHM dapat ditentukan dengan prosedur tabung dilusi. Prosedur ini digunakan untuk mentukan konsentrasi antibiotik yang masih efektif untuk mencegah pertumbuhan patogen dan mengidentifikasikan dosis antibiotik yang efektif dalam mengontrol infeksi pada pasien (Radji, 2004).
            Metode dilusi menggunakan senyawa antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Pada percobaan kali ini menggunakan metode dilusi cair. Perlakuan secara umun adalah pada media yang diinokulasi mikroba uji, dilarutkan senyawa antimikroba, dan kemudian diamati pada konsentrasi berapakah senyawa antimiroba tersebut bersifat menghambat. Uji mikrodilusi cair dapat memberikan hasil kuantitatif yang menunjukan jumlah antimikroba yang dibutuhkan untuk mematikan bakteri.
Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan KHM ekstrak etanol buah sawo (Achras zapota L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Metode ektrasi yang digunakan adalah ekstrasi soxhlet. Ektrasi soxhlet adalah ekstraksi antara padat dan cair yang digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik. Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara ekstraksi Soxhlet ditempatkan dalam timbel yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap ke atas dan dikondensasikan oleh kondensor menjadi molekul-molekul cairan yang jatuh ke dalam thimble menyaring zat aktif di dalam sampel dan jika cairan pelarut telah mencapai permukaan syphon arm, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi atau juga disebut satu siklus ekstraksi.
Konsentrasi ekstrak etanol pada uji awal adalah 0%, 25%, 50% dan 100%. Konsentrasi tersebut kemudian diturunkan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum. Konsentrasi yang ekstrak etanol buah sawo pada uji selanjutnya adalah 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5%, dan 25%.
Penghambatan total terhadap pertumbuhan koloni bakteri Escherichia coli tampak pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak buah sawo muda sebesar 22,5%. Hal ini berarti, konsentrasi hambat minimal (KHM) yang dapat menghambat pertumbuhan koloni bakteri Escherichia coli adalah konsentrasi ekstrak buah sawo muda sebesar 22,5%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ekstrak buah sawo muda dengan konsentrasi 22,5% diketahui memiliki kemampuan yang setara dengan kontrol positif yaitu larutan ampicilin 1% dalam menghambat pertumbuhan koloni bakteri Escherichia coli.
Pada penelitian Sebayang (2010) diperoleh data bahwa dalam buah sawo terdapat kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, glikosida dan tanin. Flavanoid dapat berperan langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Flavonoid berdasarkan penelitian dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
Selain flavonoid, kandungan senyawa metabolit sekunder lainnya yang diduga juga bersifat sebagai antibakteri adalah tanin. Tanin mempunyai daya antibakteri dengan cara mempresipitasi protein, karena diduga tanin mempunyai efek yang sama dengan senyawa fenolik. Efek antibakteri tanin antara lain melalui: reaksi dengan membran sel, inaktivitasi enzim dan dekstruksi atau inaktivitasi fungsi materi genetik.
Adanya kemampuan ekstrak buah sawo muda dengan konsentrasi sebesar 22,5% dalam menghambat pertumbuhan total koloni bakteri Escherichia coli ini membuktikan bahwa buah sawo muda berpotensi untuk digunakan sebagai salah satu bahan obat untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang biasanya menjadi penyebab diare, yaitu Escherichia coli.


SHARE THIS

Author:

Mari Berbagi Ilmu Demi Tercapainya Pemerataan Pendidikan Di Indonesia.